Terhubung dengan kami

News

Soal Pembangunan Tahura Abdul Latif Desa Batu Belerang di Sinjai, Perlu Dialog

Dipublikasikan

pada

SIMAKBERITA.COM, SINJAI – Terkait dengan polemik di pembangunan Tahura Abdul Latif Desa Batu Belerang, Kecamatan Sinjai Borong yang masih terus saja bergulir hingga saat ini, menimbulkan banyak komentar dari berbagai pihak.

Baik dari kalangan masyarakat, mahasiswa hingga akademisi, seperti Muhlis Hajar Adiputra, akademisi senior Universitas Muhammadiyah Sinjai (UMSI). Dirinya menuturkan, seharusnya Pemerintah dan Aliansi Tahura Menggugat (ATM) duduk bersama mencari solusi terbaik dengan cara berdialog.

“Kalau dijadikan sebagai bumi perkemahan itu memang tidak sesuai dengan peruntukannya, tingkat resiko perjalanan ke sana itu tinggi, baik ke atas maupun pulangnya dan juga kalau dibangun jalur sepeda, itu kan hanya untuk segelintir orang saja,” katanya. (3/2/21).

Dia melanjutkan, pembangunan seperti ini perlu dianalisis bukan sekedar membangun saja.

“Saya memandang tidak layak Tahura dijadikan bumi perkemahan apalagi membuat jalur sepeda karena di sana itu adalah daerah penyangga yang kanan kirinya merupakan sumber mata air yang perlu dijaga dengan tentunya pembangunannya boleh saja, namun bersifat ekologis,” jelasnya, dilansir di salah satu media.

Menanggapi hal itu, Yusri yang juga Ketua Umum Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Sinjai menanggapi bahwa pembangunan Tahura terlalu dipolitisir oleh pemerintah daerah, sehingga cenderung mengabaikan kajian-kajian ilmiah terkait fungsi ekologis. Respon terhadap penolakan juga mengabaikan upaya penyelesaian konflik yang bertanggung jawab bahkan cenderung menimbulkan konflik horizontal.

“Sebagai mahasiswa yang mencintai daerah setempat, saya merasa oknum yang mendukung pembangunan bumi perkemahan dan trek sepeda itu keliru, atau belum memahami substansi dari kawasan konservasi, sehingga dapat menimbulkan persepsi bahwa dukungan tersebut entah sesuai nurani mereka atau justru diolah oleh kekuasaan,” ujarnya tegas.

Di mana-mana, kata Yusri, pembangunan itu demi kesejahteraan masyarakat. Hanya saja, bagi Yusri, mengutamakan lingkungan adalah mutlak untuk kehidupan berkelanjutan.

“Mendukung pembangunan bumi perkemahan dan trek sepeda adalah hal yang biasa, berbeda pendapat itu lumrah tapi saya pikir perlu direnungkan kembali sebab bumi ini adalah rumah bersama mahkluk ciptaan Allah,” beber Yusri menanggapi, Kamis, (4/2/21). (*/Iccang)

Editor : Nasution

Klik untuk komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terpopuler