SIMAKBERITA.COM, LUWU TIMUR – Sebanyak 840 Siswa sudah vaksinasi, guna mendukung proses pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) untuk melindungi para peserta didik dan keluarga dari covid-19.
Sehingga dengan adanya kegiatan vaksinasi ini juga diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi orang tua untuk mengirimkan putra-putri mereka kembali ke sekolahnya, bertatap muka dengan guru dan teman kelasnya
“Dari 867 siswa yang ada, sudah ada sekitar 98% siswa kami sudah divaksin covid 19, sisanya yang belum divaksin adalah karena penyakit bawaan dan faktor orang tuanya tidak setuju, ini tidak bisa dipaksakan,” ungkap Mulyama Tanjung Kepala Sekolah SMKN 2 Lutim saat ditemui awak media simakberita.com, di ruang kerjanya di jalan Sintuwu raya, Desa Beringin Jaya, Kecamatan Tomoni, Selasa (23/11/2021).
Mulyama Tanjung yang akrab disapa Pak Mul menambahkan, kalau capaian ini tidak lain karena pihak Dewan guru memberikan contoh kepada siswa kami bahwa kami sudah divaksin dan tidak terjadi dampak seperti hoax yang ramai diberitakan.
“Simpelnya, guru dulu yang memberikan contoh, guru disini semua sudah divaksin, dan Alhamdulillah tidak ada guru mengalami gangguan kesehatan setelah divaksin,” ungkap Pak Mul.
Pak Mul menginformasikan, untuk mengetahui berapa jumlah siswa yang sudah divaksin, setiap Minggu kami lakukan pengecekan, agar supaya proses PTMT ini tidak menjadi kluster baru penyebaran covid 19.
“Terkait kegiatan PTMT disekolah, pihaknya lakukan satu sesi saja dengan kehadiran seratus persen siswa kelas X dan XI, karena siswa Kelas XII mereka sedang magang, jadi ruang kelasnya tetap dimanfaatkan untuk siswa, jadi dalam kelas itu hanya diikuti 75 persen siswa saja karena sudah dibagi,” tutur Pak Mul.
Selanjutnya Pak Mul menjelaskan, kalau selama pelaksanaan PTMT ini siswa hanya melakukan pembelajaran outdoor, tidak dalam kelas, karena siswa belajar hanya 3 jam pelajaran saja perharinya, kalau pun ada dalam ruangan paling dalam ruangan Laboratorium. Dan laboratorium kami sudah sesuai standar protokol kesehatan.
“Kami lebih banyak melakukan praktek langsung, dan sekolah ini luas jadi mereka tidak berkerumun,” jelas Pak Mul.
Masih Pak Mul mengemukakan, salah satu pertimbangan kami adalah juga karena domisili siswa itu jauh dari lokasi sekolah ini berada. Kalau ini dibuat menjadi dua sesi maka bagaimana dengan siswa yang tinggal di daerah yang jauh.
“Sekarang kondisi cuaca lagi tidak menentu, siang atau sore sudah hujan, hujan lebih awal turun di daerah Utara kecamatan Tomoni, sementra 30 persen siswa banyak dari wilayah Utara,” ungkap Pak Mul.
Saat awak media melakukan pemantauan di lapangan, proses PTMT berjalan lancar dan kondusif, tempat cuci tangan tersedia di pintu masuk sekolah dan saat memasuki kelas masing-masing.
Indri salah satu siswi kelas XI saat ditemui media Simakberita, ia mengatakan, sangat mengapresiasi kegiatan PTMT yang dilaksankan di sekolahnya, Indri mengakui lebih bisa memahami pelajaran secara offline ketimbang online.
Pak Mul menginformasikan tahun depan jika mendapatkan izin dari dinas pendidikan Sulsel, maka pihaknya akan melaksanakan PTMT 100 persen. Hal ini melihat kondisi selama PTMT dilaksanakan, jumlah kehadiran peserta didik tidak pernah mencukupi, para siswa sudah berada pada zona nyaman, tidak ingin masuk sekolah, karena ada diantara siswa lebih nyaman online, ” ucapnya (Ibrahim)