Kabar Daerah

Akibat Hoax, Capaian Vaksinasi Pelajar Masih Dibawah 70 Persen

Dipublikasikan

pada

SIMAKBERITA.COM, LUWU TIMUR – Sejak pemerintah pusat menyasar dan menggencarkan vaksinasi dikalangan pelajar sejak Juli lalu, dengan maksud mendukung proses pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) guna melindungi insan pendidikan dan keluarga dari covid-19.

Sehingga dengan adanya kegiatan vaksinasi ini juga diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi orang tua untuk mengirimkan putra-putri mereka kembali ke sekolah, bertatap muka dengan guru dan teman kelasnya

Pemerintah pusat menargetkan sampai akhir tahun 2021 penduduk Indonesia telah memperoleh vaksinasi mencapai diatas 70%.

“Dari 862 siswa yang ada, sudah vaksinasi tahap 1 dan 2 baru 427, kalau dipersentasikan itu masih kurang lebih 50%,” ungkap Adam Kepala Sekolah SMPN 1 Mangkutana, saat ditemui awak media simakberita.com, diruang kerjanya yang beralamat jalan pakatan, Desa Maleku, Kecamatan Mangkutana, Jumat (19/11/2021).

Adam menambahkan, kalau datanya masih bisa berubah-ubah, karena siswa biasa lambat melaporkan ke wali kelasnya kalau mereka sudah divaksinasi di desa atau puskesmas, apalagi puskesmas saat ini rutin melakukan vaksinasi door to door ke desa-desa.

Adam menginformasikan, waktu dilakukan vaksinasi di sekolahnya banyak siswa yang datang ke sekolah karena mengira sekolah mengadakan vaksinasi dosis kedua, padahal kita lakukan vaksinasi dosis pertama karena masih ada siswa yang belum divaksin.

Masih Adam menjelaskan, sebenarnya ada kendalanya yang kami amati selama proses pelaksanaan vaksinasi di kalangan pelajar, kendalanya adalah karena masih banyak orang tua yang anaknya tidak mau divaksin.

“Ada orang tua yang mendatangi kami, bilang saya tidak mau anakku divaksin,” ujar Adam.

Adam mengungkapkan “kalau kegiatan vaksinasi yang di sekolah saja yang kami laksanakan, dari target 400 siswa yang dilaporkan ke puskesmas, tapi yang datang hanya 150 orang saja,” ungkapnya.

Ketika dikonfirmasi ke Adam, mengapa demikian?

Adam mengatakan, kalau orang tua siswa yang tidak menyetujui anaknya divaksin, jadinya dokter juga tidak mau vaksinasi siswa, kalau tidak ada pernyataan dari orang tua siswa.

“Yang bawa surat pernyataan orang tua saja yang divaksin, kalau jumlah itu saja yang bawa, yah itu saja yang divaksin, inilah masalahnya,” keluh Adam.

Adam menyampaikan, ada siswa yang sudah lulus screening, tapi tidak divaksin oleh dokternya karena yang bersangkutan tidak bawa surat pernyataan dari orang tuanya.

“Surat pernyataan persetujuan orang tua juga yang lambat ditanda tangani, ini juga jadi kendala bagi kami saat akan melakukan vaksinasi di sekolah,” ucap Adam.

Selanjutnya Adam menginformasikan kalau masih ada beberapa orang tua yang masih termakan berita hoax terkait dengan kegiatan vaksinasi yang dilakukan pemerintah saat ini, dan kondisi ini kami sudah sampaikan kepada tim vaksinasi puskesmas dan satgas covid kecamatan.

“Yang kami vaksin itu adalah siswa yang sudah disetujui orang tuanya,” ungkap Rabiatun yang menjabat sebagai tim vaksinator puskesmas mangkutana disela sela melakukan giliran piket di puskesmas mangkutana, saat ditemui awak media simakberita.com

Rabiatun menambahkan, target kami saja untuk siswa SMP 1 Mangkutana awalnya adalah 400 orang, begitu laporan yang masuk ke kami, tapi yang disetujui oleh orang tua siswa hanya berjumlah kurang lebih 150 orang, dan Lulus screening adalah 120 orang.

“Kami biasanya membawa dosis vaksin yang lebih saat ke lapangan, tapi begitu kami lakukan vaksinasi, yang datang malah tidak mencapai target yang dilaporkan ke kami,” ungkap Rabiatun.

Rabiatun melanjutkan bahwa pihaknya tidak mungkin akan menunggu peserta yang mau divaksin atau melakukan vaksin kalau peserta yang hadir itu baru satu atau dua orang saja, biasanya kami melakukan vaksin itu kalau sudah mencukupi sepuluh orang.

“Tim vaksinator itu punya aturan sendiri, kami tidak bisa menunggu siswa tuk melayani baru satu atau dua orang saja tuk divaksin, 1 vial itu untuk 10 orang, dimana kami lagi

mau Carikan orang yang mau divaksin, kalau yang mau divaksin baru 3 orang, apalagi kalau sampai sisa 3 orang terus kami mau buka lagi 1 vial vaksin, masa mau suntik orang saja sisanya,” tutur Rabiatun

Rabiatun menambahkan, jadi kami biasanya menunggu dulu sampai lewat tengah hari, namun kami balik ke puskesmas lagi kalau sudah tidak ada lagi siswa yang mau divaksin di sekolah.

Rabiatun mengeluhkan, kondisi ini hampir terjadi di semua sekolah di kecamatan Mangkutana yang sudah kami datangi sekolah tersebut untuk dilakukan vaksinasi. Dan kondisi ini juga tidak terjadi hanya dikalangan pelajar saja, namun capaian vaksinasi untuk tingkat kecamatan Mangkutana saja itu masih rendah, masih dibawah angka 50%, makanya pihaknya rutin membuka gerai vaksin di desa desa maupun di sekolah dan puskesmas (Ibrahim)

Editor : Nasution

Klik untuk komentar

Berita Terpopuler

Exit mobile version