Oleh : Budiman S.Pd
(Guru & Penulis Buku)
SIMAKBERITA.COM, MAKASSAR – Anak muda palsu, istilah yang dipopulerkan Tumming dan Abu, dua konten kreator sekaligus aktor muda kocak dalam filmnya Anak Muda Palsu tahun 2019 silam. Istilah ini menggambarkan sosok pemuda yang jauh dari karakter aslinya sebagai pemuda. Anak muda yang lembek, gampang menyerah dan takut akan perubahan.
Seharusnya pemuda adalah ujung tombak peradaban bukan pengecut yang hanya bersembunyi di barisan belakang. Dia adalah harapan bangsa di masa depan. Sepuluh pemuda bahkan dapat melampaui seribu kemampuan orang tua. Sebagaimana ungkapan Ir.Soekarno (1901-1970), Presiden pertama Indonesia, “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut gunung Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”
Pemuda tentu berbeda dengan anak kecil dan orang tua. Pemuda memiliki tiga keistimewaan yang tak dimiliki di masa kanak-kanak maupun di masa tua. Pertama, memiliki pikiran jernih dan daya ingat yang tajam. Otak dan akalnya telah berkembang dengan baik sehingga mampu menangkap dan memahami segala informasi. Apalagi saat ini ditopang fasilitas digital yang komplit.
Kedua, memiliki fisik dan jasmani yang kuat nan sehat. Terbukti dari banyaknya Timnas Indonesia di piala AFF Suzuki 2020 kemarin, mayoritas dari kalangan pemuda. Bahkan hampir semuanya pemuda. Mereka kuat, sehat dan berbakat. Dan keistimewaan ketiga, pemuda belum terbebani dengan sederet amanah dan tanggung jawab sosial maupun rumah tangga. Kalaupun ada, hanya sedikit sekali dari mereka yang demikian. Umumnya mereka sibuk di organisasi kampus atau komunitas.
Dengan tiga keistimewaan tersebut, rasa-rasanya pemuda tak pantas menjadi pribadi yang palsu, tak mengenali jati dirinya dan tak tahu akan potensi yang dimilikinya. Terlebih sebagai pemuda Bugis Makassar yang dikenal pemberani dan pantang menyerah. Karakter pemuda Bugis Makassar memang tercermin dari falsafah hidupnya sebagai orang Bugis-Makassar, “Sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai”, diartikan “Lebih kupilih tenggelam di lautan daripada harus kembali lagi ke pantai”.
Secara harfiah, falsafah ini mencerminkan pribadi pemberani, tatkala mengambil suatu keputusan maka ia tidak ragu menjalaninya, walau berbagai rintangan tak henti menghadang. Di saat jatuh sepuluh kali, ia tetap bangkit sebelas kali. Di kala gagal beberapa kali, ia terus mencoba berkali-kali. Demikianlah karakter asli anak muda Bugis Makassar.
Telah banyak anak-anak muda Makassar yang sukses bahkan di usianya yang masih muda. Sebut saja dua tokoh muda yang telah saya sebutkan tadi, Tumming dan Abu. Berawal dari hobi membuat video lucu di instagram, hingga mengantarkan mereka menjadi aktor film di kancah nasional setelah sukses dengan filmnya Uang Panai dan Anak Muda Palsu.
Beda lagi dengan pengusaha muda Makassar satu ini, sekaligus ketua HIPMI BPC Makassar tahun 2018-2021, Muhammad Ikram Riswandi. Pemuda kelahiran 1993 ini ternyata seorang Direktur Utama PT Ikran Tiga Berlian. Perusahaan yang bergerak di sektor konstruksi jalan dan bangunan. Tak hanya itu, ia juga mempunyai beberapa SPBU yang tersebar di berbagai daerah Sulawesi Selatan.
Bukan hal mudah menjadi seorang Direktur di usia muda. Pasalnya, ia harus mampu menjadi pemimpin dari para staf, manajer dan karyawannya, yang sebagian usia mereka jauh di atas usianya. Bahkan lebih mengejutkan lagi, bila ada anak muda yang memimpin suatu daerah yang cakupannya lebih luas dari perusahaan. Sebagaimana bupati Kabupaten Gowa ini, Adnan Purichta IYL.
Sejak 2015 menjabat Bupati Gowa di usianya yang terbilang masih sangat muda, 29 tahun. Ia hadir sebagai sosok muda pembaharu. Seolah menyadarkan kita bahwa pemuda tak selamanya menjadi pengikut. Pemuda juga bisa menjadi pemimpin bukan hanya menunggu di masa depan, tapi juga di masa kini.
Tokoh-tokoh muda di atas bahkan telah membuktikan satu lagi falsafah hidup Bugis Makassar, “Eja pi nikana doang”. Seekor udang dapat disebut udang yang nikmat disantap, setelah warnanya memerah saat berada di atas tungku pembakaran. Maknanya, bahwa seseorang baru dapat dikenal luas atas karya yang telah ditorehkannya. Dan semua itu hanya bisa diperoleh dari kerja keras, tekun dan pantang menyerah.
Mari jadikan awal tahun 2022 ini sebagai spirit baru pemuda Bugis Makassar. Jangan menjadi anak muda palsu yang tinggal diam dalam keputusasaan. Hanya berpangku tangan menunggu datangnya perubahan. Apalagi menghabiskan masa mudanya dengan kesia-siaan. Sungguh ini bukanlah karakter yang diwariskan para pendahulu kita saat berupaya mengusir penjajah, mempertahankan tanah kehormatan ini hingga dapat kita nikmati kini.
Editor : Nasution