SIMAKBERITA.COM, MAKASSAR – Ramadhan adalah Syahru at-Tarbiyyah (bulan pendidikan) yang melatih umat Muslim menjadi pribadi bertakwa melalui puasa, disiplin waktu sahur-berbuka, serta pengendalian hawa nafsu dan amarah. Ini adalah madrasah spiritual untuk menanamkan kejujuran, empati, dan kesabaran yang membentuk karakter mulia selama sebulan penuh.
Sejak terbenamnya matahari di hari Jumat, 20 Maret 2026 menandai telah masuknya 1 Syawal 1447 di seluruh Indonesia serta berbagai belahan bumi lainnya, umat Islam sedang mengumandangkan kalimat tauhid, takbir, tahmid dan tahlil.
Dr. Jumadi Al Bimawi, M.Pdi, Dosen Pascasarjana Universitias Islam Jogyakarta dalam khutbahnya di Masjid Jami Al Ittihad Toddopuki 7, menekankan kewajiban anak kepada kedua orang tua. Hal tersebut katanya, sebagai salah satu penentu keberhasilan dan kebahagian kita, baik di dunia maupun di akhirat.
” Ridho Allah terletak keridhoan kedua orang tua dan murka Allah berada dikemurkaan orang tua,” katanya mengutip hadis Rasulullah SAW.
Begitu banyak dalam Al Quran yang menjelaskan tentang perintah Allah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, baik mereka masih hidup maupun yang sudah mendahului kita.
Berbakti kepada kedua orang tua tidak dibatasi ruang dan waktu karena jangankan mereka masih hidup ketika meninggalpun kita sebagai seorang anak masih mempunyai kewajiban untuk berbakti kepadanya.
” Kita bisa melihat dalam Al Quran perintah berbakti kepada kedua orang tua. Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua,” terangnya.
Setelah kita memahami betapa besar jasa dan pengorbanan kedua orang tua, maka seorang anak dapat berbuat baik kepada mereka, baik masih hidup maupun yang sudah wafat dengan cara, berbicara dengan lemah lembut dan penuh penghormatan. Taat dan patuh selama tidak dalam kemaksiatan. Memberikan perhatian, waktu, dan kasih sayang.
Mendoakan mereka yang masih hidup mauoun yang sudah wafat, serta melanjutkan kebaikan dan menjaga nama baik mereka.
Di akhir khutbahnya, Dr. Jumadi, mengajak sekitar seribuan jamaah yang memadati Masjid Jami Al Ittihad dan sepanjang jalan Toddopuli 7 untuk saling memaafkan atas segala dosa dan kekhilafan, agar moment merayakan hari kemenangan dan kembalinya kita kepada kesucian dapat dicapai secara sempurna.
Terpisah, Ketua Takmir Masjid Jami Al Ittihad Toddopuli 7, Andi Muhammad Gunawan, usai salat Idulfitri mengatakan Ramadhan sudah berpamitan, bulan dimana Allah SWT memberikan banyak keberkahan, bulan dimana kita diberikan kesempatan menjalankan perintah berpuasa, untuk mensucikan diri baik fisik maupun mental, hati dan pikiran dari setumpukan dosa dan kesalahan.
“Bulan Ramadhan ini bagaikan Privilege yang Allah SWT, berikan kepada hamba- hamba- Nya. Tentunya kita semua mesti memanfaatkan privilege tersebut dengan maksimal,” ujarnya.
Ketika Ramadhan sudah akan beranjak, seketika pula semua umat Islam meneteskan air mata, pertanda kehangatan kita bersama Ramadhan akan berakhir dan berharap di hari yang fitrah ini semua umat Islam mendapatkan predikat taqwa.
” Kita berharap prilaku, tutur kata, santun, dan keperduliaan sesama terus terjaga dengan baik di bulan-bulan perjalanan kita menuju bulan suci Ramadhan tahun berikutnya. Tetap dititipkan kesehatan, ketaqwaan dan kesempatan dari Allah SWT,” tutupnya. (*).