Terhubung dengan kami

Opini

Juru Parkir dan Kebajikannya

Dipublikasikan

pada

Oleh: Andi Farid Baharuddin
(Dosen Sastra Inggris, Universitas Sawerigading)

SIMAKBERITA.COM, MAKASSAR – Terik matahari begitu menyengat, serasa kulitku yang sawo ini tampak lebih pekat dari biasanya. Tak ada yang bisa ku perbuat selain menggerutu pada diriku sendiri. Diperparah, siang ini adikku tengah nangis karena susunya habis sejak tiga hari yang lalu. Aku hanya bisa melihat tatapan kosongnya, yang mengadu nasib  kehidupan padaku seorang.

Iya, tentu padaku seorang. Kami hanya hidup berdua. Ayah dan ibu kami telah bercerai dan mengambil langkah sendiri sendiri. Mereka lebih memilih hidup dengan pasangan baru tanpa memperdulikan kami sebagai darahnya sendiri. Mungkin, mereka merasa kami hanyalah nestapa yang tidak menguntungkan malah merugikan. Laksana bocah tengil yang melempar batu di sungai tanpa harus peduli kemana arus akan membawanya.

Hayalku ini tersadarkan saat tangis adikku makin meninggi. Aku pun mulai menggendongnya. Mencoba menenangkannya dengan menyanyikan lagu Cicak Cicak di Dinding. Kini gumamku berlanjut, “harus ku titipkan kemana lagi adikku ini? Aku harus mencari sumber penghidupan untuknya. Setiap hari kami harus puasa karena tak ada sesuatu yg dapat kami lahap. Mungkin, kalau petang ini belum ada makanan, maghribpun kami lanjut berpuasa,” guyonku untuk mengibur diri.

“assalamualaikum. Nia joko rinni Salman?” Teriak seorang di depan pintu gubuk kami.

Iye., nia ja. Nai anjo?” Jawabku

Nakke. Haji komar. Sulu ko rong” Perintahnya.

Perasaanku kini tak karuan. Mengapa tidak, kedatangannya tidak lain untuk menanyakan tunggakan gubuk selama 7 bulan. Cobaan apalagi yang harus ku hadapi tuhan?

Ku beranikan diri melangakah keluar sembari membuka pintu seng yang terganjal batu sebagai pengunci.

tabe pak, attama meq ri …” belum usai aku berkata ia langsung memotong arah fikiranku yang hendak mengajaknya masuk.

“anggapa moko doe di tempat parkir nu? Haji mau beli songko baru dulu” Ungkapnya sambil memperbaiki sarungnya.

sikedde ji ku gappa anne pak. anne poeng erokka beli susu, karena adikku nangis terus kasian” mohonku agar ia mengerti.

“panggil ka haji kalau kau bicara sama saya, nah. Tidak gampang itu haji nak. bajimi padek, sareang ma anjo rong. Cari moko lagi sebentar” Tak butuh berapa lama, ia pun merogoh uang yang ku perlihatkan padanya dari hasil kerja parkiran.

Akupun kembali melayangkan Tanya pada diri sendiri. Mengapa kebanyakan orang senang disapa haji? Bukankah haji adalah langkah spiritual untuk mendapat ridho-nya? Mengapa harus menjadi sapaan? apa lagi gelar? Apakah ketika nabi Muhammad melaksanakan ibadah haji, iapun lantas menggelari dirinya Haji? Sudahlah. Bagiku ini adalah warisan nenek moyang yang mengakar di budaya kita. “Feodal!” Gerutuku dalam hati.

Saat aku hendak berangkat, Pak komarpun melayangkan saran agar adikku dititipkan padanya. Setidaknya ia sudah berbaik hati karena ingin menjaga adikku, “iye minta tolong karaeng haji. Nanti insyallah saya pulang jam 7 malam” kataku sembari menundukkan kepala.

Wajahnya pun mulai berseri mendengar sapaan karaeng dan haji yang ku sematkan padanya. “oh iye nak. Hati2 ko nah”.

                                                                           ***

Lokasi parkiran saya tidak jauh dari rumah. Tepatnya di area parkiran Mall Panakukang. Setiap berada di lokasi parkiran akupun temenenung. Tak ada yang bisa ku lakukan selain meniup peluit. Dimata umum, tak ada kemuliaan bagi seorang yang berprofesi sebagai juru parkir. Mereka berkata, apa guna menjadi juru parkir? Hanya meniup peluit dan mengarahkan kendaraan saja. Belum lagi duitnya sangatlah kecil. Sehingga hinaan dan pendapatan selalu berat sebelah. Tidak seperti koruptor, meski mendapatkan hinaan, tapi mereka mampu merogo duit rakyat hingga terliunan. 

Sebagai juru parkir, uang yang diperoleh selalu tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mungkin, kebutuhan pribadi cukup. Tapi aku punya adik yang tentu mengharapkan kehidupan padaku. Belum lagi gubuk pak komar yang sudah menunggak sekian bulan. Tuhan, betapa hidup ini keras.

Untuk mengisi waktu kosong, aku selalu meluangkan waktu membaca Koran-koran bekas yang berserakan di jalanan. Saat diperjalanan tadi aku menemukan lembaran Koran fajar yang terbit pada hari minggu, (30/7/2019). Yang menarik perhatianku, judul yang tercantum di halaman pertama, 225 Ribu Pengangguran di Sulsel. Salah satu faktornya karena di era 4.0 saat ini, penggeseran pemanfaat tenaga kerja menuntut untuk cakap dalam mengoperasikan teknologi.

Dalam hati, Akupun berkata, “tentu aku salah satu dari sekian ribu pengangguran. Aku hanyalah tukang parkir yang bertamatkan SMP. Sudah barang tentu saya tak punya keahlihan di bidang teknologi. Jangankan mengoperasikan, memiliki saja, tidak!”.

Karena asik membaca, terdengar teriakan seorang yang marah ntah sebab apa. “mana tukang parkirnya ini? Mana helmku. Kenapa hilang?”

“iye kenapaki?” Ucapku dengan berlari menuju sumber suara.

“kenapa bisa hilang helmku na ada ji tukang parkirnya? Kau bikin apakah? Kau ini bertanggung jawab awasi barangku. Adaji matamu toh? Kalau hilang mau joko ganti?” Teriaknya dengan ekspresi melotot sambil menunjuk ke arahku

“ada ji mataku pak. Saya liat jeki’ tadi taru helm ta di kursi pas masuk di bank Danamon. Itu sanakan yang warnah merah?”

“Oh iya towwa. Ku lupai” setelah mengambil helmnya, iya pun berlari ke arahku dan meminta maaf sebagaimana budak yang menghamba pada tuannya. “bro minta maaf sekali ka bro. tadi sudah kasar tunjuk2i. helem ini mahal. Saya panik kalau hilang”

“lupakanlah. Itu Sudah menjadi kewajiban bagi para juru parkir seperti saya. Kami hanya memiliki 2 mata, tapi harus mengawasi sekian banyak kendaraan. Cacian seperti itu, sudah menjadi sarapan bagi kami”

“Kenapa mau jadi tukang parkir?” tanyanya dengan polos

“setiap orang tentu menginginkan pekerjaan yang terhormat sebagaimana saudarapun inginkan. Tapi apa daya, saya hanyalah tamatan SMP yang sulit mendapatkan pekerjaan. Apa saudara tahu. baru saja saya membaca Koran, bahwa setiap tenaga kerja dituntut untuk menguasai teknologi. Kalau tidak, mereka akan tergerus oleh system penghisapan saat ini” ucapku sambil menunjukan Koran yang baru saja ku baca.

Tak lama memberikan koran tersebut, aku melanjutkan “kawan saya yang bekerja di LBH Makassar pernah berkata, pemerintah itu berkewajiban memberikan akses pekerjaan bagi warganya, tanpa harus melihat kecakapannya di bidang teknologi. kesadaran masyarakat kita masih banyak yang jauh dari apa yang pemerintah harapkan. Itu semua karena mahalnya biaya pendidikan. Coba tengok kawan saya yang di sana” ku arahkan pandangannya pada kawanku bernama Helmi, “ia ingin masuk kuliah, karena mahal biaya pendidikan, sehingga ia menyabung nasib menjadi juru parkir. Bagaimana mau maju kesadaran ta semua kalau mahal biaya pendidikan?” tanyaku padanya.

“Kamu kok tahu itu semua? Bukankah kamu hanya juru parkir? Saya saja mahasiswa tidak mengerti sampai sana”

“Kawan, meskipun saya hina sebagai tukang parkir, tapi saya selalu meluangkan waktu untuk membaca dan berorganisasi. Dengan membaca, kita meningkatkan kesadaran kita. Dengan organisasi, kita mengokohkan kekuatan. Saya miris melihat jika sudara yang mahasiswa ini malas membaca dan tak terjun berorganisasi,” Ungkapku dengan memegang bahunya sembari melanjutkan “sebab, ketika anda telah menjadi sarjawanan dan bekal ilmu yang anda miliki anda akan ditagih oleh masyarakat untuk menghilangkan kemiskinan dan kebodohan. Dan bukan malah menghilangkan orang miskin lagi bodoh”.

“baiklah kawan, esok saya mulai berorganisasi dan membaca. Ambil meq ini uang” ia memberiku 2 lembar uang 20.000.

“Tabe, lebih uang ta bro. saya nda bisa terima uang yang bukan dari hasil keringatku. Ongkos parkir Cuma 2000” saat hendak saya mengembalikan lebihnya, kawan tak bernama itupun telah menjauh dari tangkapan mataku laksana matahari yang dilahap lautan, “semoga tuhan memberkatimu kawan” Ucapku dalam hati.

Klik untuk komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terpopuler