Terhubung dengan kami

Opini

Berkaca untuk Menelisik

Dipublikasikan

pada

Foto : Adham Nugraha, Sekretaris BARA JP Kota Makassar

Oleh : Adham-Nugraha
(Sekretaris Bara JP Kota Makassar)

SIMAKBERITA.COM – Acapkali kita berdiri dan tertegun dengan kemasygulan diri di depan sebuah cermin, entah itu sejenak atau bahkan kita lalai terhadap waktu untuk sekadar memuaskan keinginan hati.

Suatu pagi selepas mandi, anak sulungku berdiri menatap pantulan bayangannya di kaca almari kamar.

Sesabit senyum kecil di wajahnya menghiasi, “Bapak, saya sudah besar mi di’ dan ganteng seperti Bapak”, ujarnya sembari terus menuntaskan sisiran rambut basahnya.

Di usia yang hampir genap tujuh tahun di 2018 ini, dia -anak sulungku- ternyata menjalani proses berkaca secara alamiah tanpa kusadari.

Sejatinya sebagai panutannya, falsafah serta petuah leluhur yang mengaliri tidak kubiarkan tumbuh begitu saja tanpa topangan kokoh pemaknaan kekinian (zaman now).

Sesabit senyum itu mewakili refleksi rasa, gempita, dan riuh hati pada belia usianya. Di zaman now dan beberapa dekade kedepan kelak, siap ataupun tidak, ia akan menjadi bagian dari suatu proses besar yang akan membentuk babakan eleginya.

Foto : Adham Nugraha, Sekretaris BARA JP Kota Makassar

Sipakatau, Sipakainga’, dan Sipakalabbiri, Siri’ Na Pacce, Rampea Golla Na Ku Rampe Ki Kaluku, dan tentu saja masih banyak lagi falsafah sarat makna warisan leluhur ditempatkan ala kadarnya saja.

Jika sejarah menjadi panutan dan ruang bercermin kita untuk berkaca menelisik hikmah, rasanya tidak berlebihan jika ruang bercermin adalah Karaeng Pattingalloang, seorang cendikiawan dan diplomat termasyur di masanya (abad ke-17).

Sebagai bangsawan, di usia yang masih belia (18 tahun), Karaeng Pattingaloang, Raja Tallo VIII yang juga merangkap Pabbicara Butta (Mangkubumi) Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Raja Gowa XV, Sultan Muhammad Said, menitipkan contoh bagaimana membangun komunikasi politik dan sosial dengan kesantunan dan penuh cinta, meski pada titik-titik tertentu menjadi panglima perang yang sangat disegani kawan dan lawan.

Di kekinian zaman kita ini, riuh dan gempita sebuah kenduri, perhelatan, atau kontestasi hendaknya menjadikan relung diri juga empati spiritualitas untuk mawas, sadar, dan awas tentang apa dan bagaimana sebuah lakon dan atau prosa-prosa politik diskenariokan.

Kita larut, hanyut, dan lupa kembali berkaca menelisik hikmat, siapa, dan bagaimana kita menerjemahkan pappasang tu riolo (pesan-pesan leluhur) di kekinian a.k.a zaman now.

Anak sulungku dan kawanannya harus kembali berkaca pada suatu saat di zamannya, tetapi kepada siapa nanti dia berpanutan?

Akankah kita menjadi dan memberikan panutan calon-calon generasi milenial selanjutnya?

Mari kita berkaca untuk menelisik.
Salam Demokrasi Santun.

Penulis : Adham Nugraha

Klik untuk komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terpopuler