Terhubung dengan kami

Liputan Khusus

Kuota BBM Subsidi 8 Ton, Hanya 4 Ton Disalurkan per Hari Warga Pertanyakan 

Dipublikasikan

pada

SIMAKBERITA.COM, KUTAI TIMUR – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Biosolar yang terjadi selama beberapa bulan di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, mulai meresahkan masyarakat. Kondisi tersebut diduga salah satunya dipicu maraknya praktik pengetapan BBM bersubsidi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Seorang sopir truk yang menggunakan BBM bersubsidi dan meminta namanya tidak disebutkan mengatakan, pengetap diduga melakukan pengisian BBM bersubsidi secara berulang di sejumlah SPBU menggunakan kendaraan pribadi maupun truk.

“Modusnya menggunakan plat gantung. Setelah mengisi BBM bersubsidi, mereka mengganti plat nomor polisi kendaraannya untuk kembali mengisi BBM bersubsidi di SPBU,” ungkapnya kepada wartawan Simakberita.com, Kamis (13/8/2026).

Menurutnya, praktik tersebut membuat masyarakat yang benar-benar membutuhkan BBM bersubsidi kesulitan mendapatkan bahan bakar.

“Saya heran kenapa operator SPBU tidak bisa mendeteksi para pengetap yang berulang kali mengisi BBM bersubsidi,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan wartawan di lapangan, BBM Pertalite bersubsidi yang dijual oleh pengecer berada pada kisaran Rp 20.000. hingga Rp 25.000 per liter. Sementara harga Pertalite di SPBU disebut Rp10.000 per liter.

Adapun Biosolar bersubsidi di tingkat pengecer dijual sekitar Rp15.000 hingga Rp 18.000 per liter, sedangkan harga di SPBU Rp 6.800 per liter.

SPBU Sebut Gunakan Aplikasi

Sementara itu, Pengawas SPBU, 64.753.10 KM 1, jalan Poros Bontang-Sangatta Darwin, mengatakan pihaknya telah menggunakan aplikasi sebagai salah satu upaya mengantisipasi pengetap yang melakukan pengisian BBM bersubsidi berulang kali.

“Untuk mengatasi agar pengetap tidak ikut antre membeli BBM bersubsidi, kami menggunakan aplikasi untuk pengguna BBM bersubsidi. Jadi pengguna BBM bersubsidi kendaraannya didaftarkan melalui aplikasi, kemudian kendaraan yang terdaftar itu yang datang ke SPBU untuk mengisi BBM bersubsidi,” kata Darwin.

Darwin juga menjelaskan, SPBU KM 1 mendapatkan alokasi BBM bersubsidi sebanyak 8 ton untuk dua hari dari Pertamina.

“Jatah kuota BBM bersubsidi itu 8 ton per dua hari dari Pertamina. Namun yang disalurkan hanya 4 ton, besok sisanya 4 ton baru dijual lagi,” ungkapnya.

Ketika ditanya mengenai alasan tidak menyalurkan seluruh kuota 8 ton pada hari yang sama, sementara masyarakat saat ini mengalami kesulitan mendapatkan BBM bersubsidi, Darwin mengaku persoalan tersebut telah disampaikan kepada pihak Pertamina.

“Hal ini sudah saya sampaikan kepada Pak Rahman bagian checker Pertamina. Selanjutnya dia yang menyampaikan kepada Sales Branch Manager (SBM) Rayon III Kaltimut PT Pertamina Patra Niaga, Hermawan Bagus Prabowo,” jelasnya.

Pertamina Belum Berikan Tanggapan Resmi

Wartawan Simakberita.com kemudian menghubungi Sales Branch Manager (SBM) Rayon III Kaltimut PT Pertamina Patra Niaga, Hermawan Bagus Prabowo, melalui WhatsApp untuk meminta konfirmasi terkait kelangkaan dan dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi.

Hermawan awalnya menyampaikan dirinya sedang mengikuti kegiatan dan belum dapat bertemu. Ketika kembali dihubungi, ia menyampaikan permohonan maaf karena belum dapat memberikan komentar dan mengarahkan wartawan untuk menghubungi Rendy.

Namun, saat wartawan menghubungi nomor WhatsApp yang diberikan tersebut, nomor Rendy tidak aktif.

Sebelumnya, media online Simakberita.com juga telah melayangkan surat permohonan wawancara kepada pihak Pertamina Patra Niaga Balikpapan pada 11 Agustus 2026 untuk meminta penjelasan terkait kelangkaan BBM bersubsidi serta dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi di wilayah Kutai Timur.

Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak Pertamina Patra Niaga Balikpapan terkait persoalan tersebut. (Samsul/Hamka).

Editor : Anas.

Berita Terpopuler