SIMAKBERITA.COM, MAKASSAR — Inovasi pengelolaan sampah organik terus dikembangkan warga di Kecamatan Wajo, Kota Makassar. Salah satunya melalui program MAGOTTA (Maggot Tukar Telur Ayam) yang diinisiasi RW 04 Kelurahan Butung bersama RT 03 dan RT 04.
Program tersebut menjadi model siklus budidaya maggot dan ayam kampung yang dikembangkan secara lintas kelurahan di Kecamatan Wajo. Kegiatan ini turut mendapat perhatian dari Plt. Camat Wajo, Ivan Kala’lembang, Jumat (4/9/2026).
Program MAGOTTA digagas oleh RW 04 Pak Triman bersama Mba Sri selaku Ketua RT 04 dan RT 03, Wahyu Syamsul Kabir, S.H. Konsepnya memanfaatkan sampah organik sebagai bahan pakan maggot, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan berprotein bagi ayam kampung jenis Joper.
Selain budidaya maggot, RW 04 juga memanfaatkan lahan-lahan sempit untuk menanam berbagai jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan oleh warga. Kegiatan tersebut terintegrasi dengan program Urban Farming Kelurahan Butung.
Kelurahan Butung saat ini juga telah mengembangkan peternakan ayam kampung Joper sebanyak 20 ekor serta budidaya ikan nila. Pengembangan tersebut diharapkan membentuk siklus pemanfaatan limbah organik yang berkelanjutan.
Plt. Camat Wajo, Ivan Kala’lembang, mengatakan pengembangan budidaya maggot memiliki potensi besar karena dapat terintegrasi dengan sektor peternakan dan pertanian warga.
“Selain maggot, saat ini mereka juga telah beternak ikan lele dan ikan nila. Sehingga dipastikan siklus maggot sebagai pakan dan gasgot atau kotoran maggot bisa menjadi media tanam yang subur. Selain itu, cangkang maggot juga dapat dijadikan pupuk organik,” ujar Ivan.
Menurutnya, keberadaan budidaya maggot juga memberikan dampak langsung terhadap pengurangan sampah organik di lingkungan masyarakat.
” RW 04, RT 03, sudah memanfaatkan atau mereduksi sampah organik sebanyak 50 kilogram per hari. Bahkan karena kekurangan sampah organik, RW 04, RT 03 mencoba menjangkau Kelurahan Melayu Baru, khususnya Pasar Bacan,” jelasnya.
Sampah sisa sayuran dan berbagai jenis sampah organik dari kawasan tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai pakan maggot sehingga tidak langsung berakhir di tempat pembuangan sampah.
Ivan menyebutkan, saat ini jumlah maggot pada fase rakus dan baby maggot yang dikembangkan di RW 04 Kelurahan Butung mencapai sekitar 15 hingga 20 kilogram.
Ia menilai, program MAGOTTA bukan sekadar kegiatan budidaya maggot, tetapi merupakan rintisan solusi untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus menghasilkan sumber pakan alternatif bagi peternakan ayam kampung Joper.
MAGOTTA diharapkan dapat menjadi model ekonomi sirkular berbasis masyarakat, di mana sampah organik diolah menjadi maggot, kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sementara limbah budidayanya kembali dimanfaatkan sebagai pupuk dan media tanam. (Anas).